Page 1Page 2Page 3Page 4Page 5Page 6Page 7Page 8Page 9Page 10Page 11Page 12Page 13Page 14Page 15Page 16Page 17Page 18

Page 1 of 18
next >

STRATEGI PEMANFATAN TEKNOLOGI INFOMASI

oleh

Diana Effendi

Program Studi Sistem Informasi, Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer

Universitas Komputer Indonesia, Bandung

ABSTRAK

Startegi merupakan alat mencapai tujuan. Strategi merupakan tindakan yang

bersifat incremental (senantiasa meningkat) dan terus menerus dan dilakukan

berdasarkan sudut pandang tentang apa yang diharapkan oleh para pelanggan

dimasa depan. Dengan demikian perencanaan strategis hampir selalu dimulai dari

“apa yang dapat terjadi“ bukan dimulai dari “apa yang terjadi“. Terjadinya

kecepatan inovasi pasar baru dan perubahan pola konsumen memerlukan

kompetensi inti (core competencies). Organisasi perlu mencari kompetensi inti di

dalam bisnis yang dilakukan.Untuk menetapkan strategi suatu organisasi dapat

dipandang dari budaya organisasi tersebut. Dalam tulisan ini pengamatan budaya

organisasi menggunakan model OCAI dan Hofstede. Sedangkan strategi

pemanfaatan teknologi informasi organisasi menggunakan pedoman Imperatives

For Leaders In A Networked World.

Kata kunci : OCAI, Hofstede, Imperatives For Leader In A Networked World

I. Pendahuluan

Setiap organisasi saat ini memiliki kecenderungan untuk meningkatkan

kemampuannya dalam hal memberikan pelayanan yang optimal kepada seluruh

konsumennya tidak terkecuali organisasi tersebut merupakan perguruan tinggi.

Keinginan tersebut tentunya harus didukung oleh berbagai hal, salah satunya adalah

dukungan pengembangan teknologi sistem informasi dan organisasi untuk lebih bisa

bersaing dengan pesaingnya. Agar dapat bersaing dengan pesaing bisnisnya, maka

suatu organiasi harus menetapkan suatu strategi untuk mencapai sasaran bisnisnya.

Strategi merupakan alat mencapai tujuan. Strategi merupakan tindakan yang bersifat

incremental (senantiasa meningkat) dan terus menerus dan dilakukan berdasarkan

sudut pandang tentang apa yang diharapkan oleh para pelanggan dimasa depan.

Dengan demikian perencanaan strategis hampir selalu dimulai dari “apa yang dapat

terjadi“ bukan dimulai dari “apa yang terjadi“. Terjadinya kecepatan inovasi pasar

baru dan perubahan pola konsumen memerlukan kompetensi inti (core

competencies). Organisasi perlu mencari kompetensi inti di dalam bisnis yang

dilakukan.

Untuk menetapkan strategi suatu organisasi dapat dipandang dari budaya

organisasi tersebut. Budaya organisasi pada umumnya tercermin dalam kerangka

kerja dari anggota organisasi tersebut. Kerangka kerja tersebut mengandung asumsi

dan nilai dasar tertentu. Asumsi dan nilai dasar tersebut diajarkan ke anggota baru

sebagai cara pandang, berpikir, merasakan sesuatu ,bertingkah laku dan harapan

kepada anggota organisasi lainnya dalam bertingkah laku.

Untuk dapat mencirikan dan berbicara tentang budaya organisasi seseorang

hendaknya mampu untuk melangkah mundur secara objektif dan melakukan

observasi dan wawancara secara kritis. Berbagai penelitian telah mengembangkan